Harga tanah per meter di Jabodetabek per 2026 terus menunjukkan tren kenaikan yang signifikan. Berdasarkan laporan terbaru Cushman & Wakefield dalam Marketbeat Greater Jakarta Landed Residential H2 2025, rata-rata harga lahan residensial di kawasan Jabodetabek kini mencapai Rp 12,7 juta per meter persegi — naik 1,58 persen dibandingkan periode sebelumnya. Pertanyaannya, di mana lokasi paling cuan untuk investasi tanah tahun ini?
Kenaikan harga tanah ini bukan tanpa alasan. Pengembangan infrastruktur masif seperti MRT Fase 2, LRT Jabodebek, hingga konsep Transit Oriented Development (TOD) menjadi katalis utama. Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan mencapai 5,1–5,4 persen pada 2026 turut mendongkrak permintaan lahan di seluruh wilayah Jabodetabek.
Harga Tanah per Meter di Jabodetabek Terbaru 2026
Data dari Cushman & Wakefield menunjukkan pergerakan harga yang menarik di setiap wilayah Jabodetabek. Jakarta tetap menjadi raja dengan rata-rata harga tertinggi, sementara kawasan penyangga mulai menyusul dengan kecepatan yang mengejutkan.
Berikut tabel perbandingan rata-rata harga tanah per meter persegi di Jabodetabek berdasarkan data akhir 2025 menuju 2026:
| Wilayah | Harga Rata-rata/m² (Semester II 2025) | Harga Rata-rata/m² (Semester II 2024) | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Jakarta | Rp 16.224.082 | Rp 15.968.989 | ↑ 1,60% |
| Tangerang | Rp 14.824.953 | Rp 14.967.943 | ↓ 0,96% |
| Bekasi | Rp 10.985.202 | Rp 10.875.451 | ↑ 1,01% |
| Bogor-Depok | Rp 8.950.369 | Rp 8.798.005 | ↑ 1,73% |
| Rata-rata Jabodetabek | Rp 12.746.152 | Rp 12.652.597 | ↑ 1,58% |
Faktanya, kawasan Bogor-Depok mencatat kenaikan persentase tertinggi dibandingkan wilayah lain. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan penyangga semakin diminati, terutama oleh pekerja Jakarta yang mencari hunian terjangkau dengan akses transportasi memadai.
Rincian Harga Tanah per Meter di Setiap Wilayah Jakarta
Jakarta sebagai pusat ekonomi tetap mendominasi harga tanah tertinggi se-Jabodetabek. Namun, harga di setiap wilayah administratif Jakarta sangat bervariasi tergantung lokasi dan fungsi kawasan.
Berikut kisaran harga tanah per meter persegi di lima wilayah Jakarta update 2026:
| Wilayah Jakarta | Kisaran Harga/m² | Kawasan Termahal |
|---|---|---|
| Jakarta Selatan | Rp 20 juta – Rp 145 juta | Kebayoran Baru, Kemang, SCBD |
| Jakarta Pusat | Rp 25 juta – Rp 200 juta | Menteng, Sudirman, Thamrin |
| Jakarta Barat | Rp 12 juta – Rp 125 juta | Kebon Jeruk, Puri Indah |
| Jakarta Utara | Rp 15 juta – Rp 130 juta | Kelapa Gading, Pantai Indah Kapuk |
| Jakarta Timur | Rp 10 juta – Rp 120 juta | Cibubur, Pondok Kelapa |
Ternyata, kawasan SCBD di Jakarta Selatan mencatat rekor tertinggi dengan harga tanah yang bisa meroket hingga Rp 200 jutaan per meter persegi. Angka ini menjadikan SCBD sebagai salah satu lahan termahal di Indonesia per 2026.
Kawasan Penyangga: Harga Tanah Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi
Bagi pencari investasi tanah yang lebih terjangkau, kawasan Bodetabek menawarkan peluang menarik. Harga lahan di area penyangga jauh lebih ramah dibandingkan Jakarta, namun potensi kenaikan nilainya justru lebih tinggi secara persentase.
Berikut rincian kisaran harga tanah per meter di kawasan penyangga Jakarta:
- Tangerang Selatan (BSD, Bintaro, Alam Sutera): Rp 5 juta – Rp 30 juta per m²
- Tangerang Kota & Kabupaten: Rp 4 juta – Rp 20 juta per m²
- Depok (Margonda, Cinere, Sawangan): Rp 3 juta – Rp 18 juta per m²
- Bekasi Kota & Kabupaten: Rp 2,5 juta – Rp 15 juta per m²
- Bogor Kota & Kabupaten: Rp 2 juta – Rp 17 juta per m²
Namun, perlu dicermati bahwa harga tanah di kawasan township modern seperti BSD City, Summarecon Bekasi, atau Sentul City bisa jauh lebih tinggi dari rata-rata. Proyek pengembangan kota mandiri oleh developer besar cenderung mendongkrak harga secara signifikan.
5 Lokasi Paling Cuan untuk Investasi Tanah 2026
Tidak semua lokasi di Jabodetabek memberikan return investasi yang sama. Berdasarkan analisis tren harga, infrastruktur, dan permintaan pasar terbaru 2026, berikut lima kawasan dengan prospek investasi tanah paling menjanjikan:
1. Koridor MRT Fase 2 — Jakarta Pusat hingga Utara
Pembangunan MRT Fase 2A yang menghubungkan Thamrin–Kota melalui tujuh stasiun bawah tanah menjadi game changer. Kawasan sepanjang koridor ini, termasuk Harmoni, Sawah Besar, Glodok, dan Mangga Besar, mengalami lonjakan minat investor.
Konsep TOD (Transit Oriented Development) di sepanjang jalur MRT diproyeksikan meningkatkan nilai tanah hingga 20–30 persen dalam 3–5 tahun ke depan.
2. BSD City dan Bintaro — Tangerang Selatan
Tangerang Selatan tetap menjadi primadona investasi tanah di luar Jakarta. Bahkan, rata-rata harga tanah di Tangerang sudah menyentuh Rp 14,8 juta per meter persegi — hanya selisih sekitar Rp 1,4 juta dari Jakarta.
Keunggulan kawasan ini meliputi:
- Akses tol Serpong–Balaraja dan JORR
- Fasilitas kota mandiri yang lengkap (sekolah, rumah sakit, pusat perbelanjaan)
- Kehadiran developer besar seperti Sinar Mas Land
- Rencana perpanjangan rute MRT ke Tangerang Selatan
3. Bekasi Timur — Koridor Tol Jakarta-Cikampek
Bekasi Timur menjadi salah satu kawasan dengan pertumbuhan nilai tanah tercepat dalam dekade terakhir. Kehadiran LRT Jabodebek, Tol Jakarta-Cikampek Elevated, serta pengembangan township modern oleh Summarecon dan Sinar Mas Land menjadi faktor utama.
Selain itu, harga tanah di Bekasi yang masih di kisaran Rp 2,5 juta – Rp 15 juta per meter persegi memberikan entry point yang sangat menarik dibandingkan Jakarta.
4. Depok dan Cibubur — Area Berkembang Pesat
Depok mencatat kenaikan harga tanah tertinggi se-Jabodetabek secara persentase (1,73 persen). Kawasan Margonda dan Cinere menjadi titik panas investasi berkat akses tol Cinere-Jagorawi (Cijago) dan Depok-Antasari (Desari).
Sementara itu, Cibubur yang berada di perbatasan Jakarta Timur dan Depok terus berkembang dengan berbagai proyek residensial berskala besar. Harga tanah di sini masih terbilang kompetitif untuk kategori kawasan dekat Jakarta.
5. Bogor — Sentul dan Kawasan Puncak
Bogor menawarkan harga entry point terendah di Jabodetabek dengan kisaran mulai Rp 2 juta per meter persegi. Kawasan Sentul City dan sekitarnya menarik minat investor berkat konsep eco-living dan akses tol Jagorawi.
Potensi kenaikan nilai tanah di Bogor cukup besar mengingat rencana pengembangan infrastruktur yang menghubungkan Bogor dengan Jakarta semakin terintegrasi.
Faktor yang Memengaruhi Harga Tanah di Jabodetabek 2026
Memahami faktor pendorong kenaikan harga tanah sangat penting sebelum memutuskan investasi. Berikut beberapa faktor utama yang memengaruhi harga tanah per meter di Jabodetabek per 2026:
- Infrastruktur transportasi — Kedekatan dengan stasiun MRT, LRT, KRL, atau gerbang tol secara langsung meningkatkan nilai tanah di suatu kawasan.
- Kepadatan penduduk — Urbanisasi yang terus meningkat mendorong lonjakan permintaan lahan, terutama di kota penyangga.
- Proyeksi pertumbuhan ekonomi — Ekonomi Indonesia yang diprediksi tumbuh 5,1–5,4 persen pada 2026 memperkuat daya beli dan investasi properti.
- Pengembangan kawasan terpadu — Proyek kota mandiri oleh developer besar menciptakan ekosistem hunian yang mendongkrak harga tanah sekitarnya.
- Kebijakan pemerintah — Insentif perpajakan dan regulasi pertanahan turut memengaruhi dinamika harga lahan.
Tips Memilih Tanah Investasi di Jabodetabek
Sebelum membeli tanah sebagai instrumen investasi, ada beberapa hal yang perlu dicermati agar keputusan lebih tepat dan menguntungkan:
- Cek NJOP dan harga pasar — Pastikan harga penawaran tidak terlalu jauh dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) dan harga pasar sekitar.
- Perhatikan rencana tata ruang — Pastikan peruntukan lahan sesuai dengan rencana investasi, apakah untuk residensial, komersial, atau campuran.
- Pantau rencana infrastruktur — Tanah di sekitar proyek infrastruktur baru (tol, stasiun, bandara) cenderung mengalami kenaikan harga yang lebih tinggi.
- Verifikasi legalitas — Pastikan sertifikat tanah (SHM atau SHGB) lengkap dan tidak dalam sengketa.
- Pertimbangkan likuiditas — Pilih lokasi yang mudah dijual kembali dengan tingkat permintaan tinggi.
Kesimpulan
Harga tanah per meter di Jabodetabek 2026 menunjukkan tren kenaikan yang stabil dengan rata-rata mencapai Rp 12,7 juta per meter persegi. Jakarta tetap menjadi wilayah termahal, namun kawasan Bodetabek — terutama Bogor-Depok — menawarkan potensi kenaikan nilai yang lebih tinggi secara persentase.
Bagi yang ingin berinvestasi tanah tahun ini, kawasan di sepanjang koridor MRT, BSD City, Bekasi Timur, Depok, dan Sentul merupakan lokasi yang layak dipertimbangkan. Kunci utamanya adalah membeli di lokasi yang akan terdampak positif oleh pengembangan infrastruktur, sebelum harga tanah melonjak lebih tinggi lagi.