Jadwal imunisasi dasar bayi 2026 resmi diperbarui oleh Kementerian Kesehatan dengan sejumlah perubahan penting, termasuk penggunaan vaksin Heksavalen yang menyederhanakan jumlah suntikan. Seluruh vaksin dalam program imunisasi rutin ini tersedia gratis di Posyandu, Puskesmas, dan fasilitas kesehatan pemerintah di seluruh Indonesia. Lantas, apa saja jenis vaksin yang wajib diberikan dan kapan jadwal pemberiannya?
Imunisasi merupakan salah satu intervensi kesehatan paling efektif dalam melindungi bayi dari penyakit berbahaya. Faktanya, data WHO mencatat bahwa imunisasi menyelamatkan 3,5 hingga 5 juta nyawa setiap tahun dari penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi (PD3I). Namun, Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Selain itu, berdasarkan data Kemenkes, sebanyak 1,3 juta anak Indonesia tercatat tidak menerima imunisasi dasar secara lengkap pada periode 2019–2023.
Jadwal Imunisasi Dasar Bayi 2026 Sesuai Rekomendasi Kemenkes
Per 2026, pemerintah melalui Kemenkes dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah menyempurnakan jadwal imunisasi nasional. Salah satu terobosan terbesar adalah penerapan vaksin Heksavalen secara masif dalam program imunisasi dasar.
Vaksin Heksavalen memungkinkan bayi mendapat perlindungan terhadap enam penyakit sekaligus — Difteri, Tetanus, Pertusis, Hepatitis B, Hib, dan Polio — dalam satu kali suntikan. Jadi, jumlah suntikan menjadi lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Berikut tabel jadwal imunisasi dasar lengkap untuk bayi usia 0–12 bulan yang berlaku secara nasional pada tahun 2026:
| Usia Bayi | Jenis Vaksin | Penyakit yang Dicegah |
|---|---|---|
| 0–24 Jam | Hepatitis B (HB-0) | Hepatitis B |
| 1 Bulan | BCG, Polio Tetes (OPV) 1 | Tuberkulosis, Polio |
| 2 Bulan | Heksavalen 1, PCV 1, Rotavirus 1 | Difteri, Tetanus, Pertusis, Hepatitis B, Hib, Polio, Pneumonia, Diare Rotavirus |
| 3 Bulan | Heksavalen 2, PCV 2, Rotavirus 2 | Difteri, Tetanus, Pertusis, Hepatitis B, Hib, Polio, Pneumonia, Diare Rotavirus |
| 4 Bulan | Heksavalen 3, Rotavirus 3 | Difteri, Tetanus, Pertusis, Hepatitis B, Hib, Polio, Diare Rotavirus |
| 9 Bulan | MR (Measles Rubella) 1 | Campak, Rubella |
| 12 Bulan | PCV 3 | Pneumonia (Pneumokokus) |
Semua vaksin di atas tersedia secara gratis di Posyandu, Puskesmas, dan fasilitas kesehatan pemerintah. Orang tua cukup membawa buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) saat kunjungan imunisasi.
Imunisasi Lanjutan dan Booster untuk Baduta hingga Usia Sekolah
Perlindungan imunisasi tidak berhenti pada usia 12 bulan. Bayi dan balita tetap memerlukan dosis lanjutan atau booster agar kadar antibodi di dalam tubuh tetap optimal. Nah, berikut jadwal imunisasi lanjutan update 2026:
- Usia 18 Bulan: Heksavalen dosis ke-4 (booster DPT-HB-Hib) dan MR dosis ke-2
- Kelas 1 SD (5–7 Tahun): Vaksin MR dan DT melalui program BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah)
- Kelas 2 SD: Vaksin Td (Tetanus difteri)
- Kelas 5–6 SD (11–12 Tahun): Vaksin HPV untuk anak perempuan (pencegahan kanker serviks) dan vaksin Td
Seluruh imunisasi lanjutan ini juga diberikan gratis melalui program pemerintah. Bahkan, vaksin HPV yang sebelumnya hanya tersedia di fasilitas kesehatan swasta dengan biaya cukup tinggi, kini sudah masuk dalam program imunisasi rutin nasional.
Keunggulan Vaksin Heksavalen dalam Program Imunisasi 2026
Mengapa vaksin Heksavalen menjadi inovasi penting? Ternyata, ada beberapa keunggulan signifikan yang membuat program imunisasi dasar bayi 2026 lebih efisien dibanding tahun-tahun sebelumnya.
- Satu suntikan, enam perlindungan: Bayi mendapat perlindungan terhadap Difteri, Tetanus, Pertusis, Hepatitis B, Hib, dan Polio sekaligus
- Mengurangi jumlah kunjungan: Jadwal imunisasi menjadi lebih sederhana dan efisien
- Mengurangi trauma suntikan: Bayi tidak perlu disuntik berkali-kali dalam satu kunjungan
- Cakupan lebih tinggi: Orang tua lebih patuh menjalankan jadwal karena prosesnya lebih ringkas
Berdasarkan data Kemenkes, penolakan orang tua terhadap imunisasi sebagian besar disebabkan oleh ketakutan terhadap suntikan ganda (38%) dan jadwal yang dianggap terlalu rumit (18%). Dengan kehadiran Heksavalen, hambatan tersebut diharapkan berkurang secara signifikan.
Cara Mendapatkan Imunisasi Gratis di Posyandu dan Puskesmas
Bagaimana cara mendapatkan layanan imunisasi gratis untuk bayi? Prosesnya sangat mudah dan tidak memerlukan biaya apapun. Berikut langkah-langkahnya:
- Cek jadwal Posyandu di lingkungan RT/RW masing-masing. Biasanya Posyandu beroperasi satu kali per bulan dengan jadwal yang sudah ditentukan oleh kader.
- Bawa buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) yang diberikan saat pemeriksaan kehamilan. Buku ini berisi catatan riwayat imunisasi lengkap bayi.
- Informasikan riwayat kesehatan bayi kepada petugas kesehatan, termasuk alergi atau kondisi medis tertentu yang sedang dialami.
- Catat jadwal imunisasi berikutnya di kalender atau pengingat ponsel agar tidak terlewat dari jadwal yang sudah ditentukan.
- Pantau kondisi bayi selama 30 menit setelah penyuntikan di lokasi imunisasi untuk memastikan tidak ada reaksi alergi berat (anafilaksis).
Selain Posyandu, layanan imunisasi gratis juga tersedia di Puskesmas dan fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Jadi, tidak ada alasan untuk melewatkan jadwal imunisasi dasar bayi.
Efek Samping Imunisasi dan Cara Mengatasinya
Salah satu alasan orang tua ragu memberikan imunisasi adalah kekhawatiran terhadap efek samping. Namun, penting untuk dipahami bahwa efek samping ringan justru merupakan tanda bahwa tubuh bayi sedang membentuk kekebalan.
Berikut efek samping umum pasca imunisasi beserta cara penanganannya:
| Efek Samping | Durasi Normal | Cara Mengatasi |
|---|---|---|
| Demam ringan (37,5–38°C) | 1–2 hari | Kompres hangat, perbanyak ASI/cairan |
| Bengkak/kemerahan di area suntikan | 2–3 hari | Kompres dingin, jangan dipijat |
| Rewel dan tidak nafsu makan | 1–2 hari | Berikan ASI lebih sering, peluk dan tenangkan bayi |
| Demam tinggi (>39°C) atau kejang | Segera periksa | Bawa ke dokter atau IGD terdekat |
Efek samping berat seperti kejang atau reaksi anafilaksis sangat jarang terjadi. Namun, jika demam bayi melebihi 39°C atau muncul gejala tidak biasa, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat.
Mitos dan Fakta Seputar Imunisasi Bayi
Penyebaran hoaks dan misinformasi tentang imunisasi masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Berikut beberapa mitos yang perlu diluruskan:
- Mitos: “Imunisasi menyebabkan autisme.” — Fakta: Tidak ada bukti ilmiah yang menghubungkan imunisasi dengan autisme. Klaim ini sudah dibantah oleh WHO, IDAI, dan berbagai lembaga kesehatan dunia.
- Mitos: “Bayi sehat tidak perlu imunisasi.” — Fakta: Justru bayi yang sehat perlu divaksinasi sebagai benteng pertahanan sebelum terpapar penyakit berbahaya.
- Mitos: “Imunisasi mengandung bahan haram.” — Fakta: Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Fatwa Nomor 04 Tahun 2016 menyatakan bahwa imunisasi diperbolehkan (mubah) dan bahkan bisa menjadi wajib jika tidak imunisasi berisiko menyebabkan kematian atau kecacatan permanen.
- Mitos: “Efek samping imunisasi berbahaya.” — Fakta: Efek samping ringan seperti demam dan bengkak di area suntikan adalah reaksi normal. Kejadian serius sangat jarang terjadi.
Daripada mempercayai informasi yang belum terverifikasi, sebaiknya konsultasikan langsung dengan dokter atau tenaga kesehatan di Puskesmas dan Posyandu terdekat.
Kesimpulan
Jadwal imunisasi dasar bayi 2026 membawa perubahan positif dengan hadirnya vaksin Heksavalen yang membuat proses vaksinasi lebih efisien dan minim trauma bagi bayi. Seluruh vaksin dalam program imunisasi nasional tersedia gratis di Posyandu, Puskesmas, dan fasilitas kesehatan pemerintah di seluruh Indonesia.
Jangan tunda lagi — segera cek jadwal Posyandu terdekat dan pastikan imunisasi bayi berjalan sesuai jadwal terbaru 2026. Lengkapi seluruh dosis imunisasi dasar dan lanjutan demi masa depan generasi yang lebih sehat dan terlindungi. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi Halo Kemenkes di 1500-567 atau kunjungi Puskesmas terdekat.