Perbandingan investasi emas, reksa dana, dan saham selama 5 tahun terakhir menjadi topik yang paling banyak dicari para investor Indonesia di tahun 2026. Mana yang memberikan return terbaik? Faktanya, setiap instrumen punya kinerja berbeda — dan jawabannya tidak sesederhana yang dibayangkan.
Dalam kurun waktu 2021 hingga 2026, ketiga instrumen ini melewati berbagai guncangan ekonomi global — mulai dari dampak residual pandemi, kenaikan suku bunga agresif bank sentral, hingga ketidakpastian geopolitik yang menekan pasar. Selain itu, kebijakan moneter dalam negeri turut mewarnai pergerakan masing-masing aset. Jadi, penting sekali memahami data riil sebelum mengambil keputusan alokasi portofolio.
Mengapa Perbandingan Investasi Emas, Reksa Dana, dan Saham Itu Penting?
Banyak investor pemula terjebak pada satu instrumen tanpa memahami konteks kinerja jangka panjang. Padahal, diversifikasi adalah kunci utama mengelola risiko.
Ada tiga alasan utama mengapa perbandingan ini relevan di 2026:
- Inflasi global masih berada di level yang memerlukan strategi lindung nilai (hedging) yang tepat
- Pasar saham Indonesia (IHSG) mengalami volatilitas signifikan sepanjang 5 tahun terakhir
- Emas mencatat rekor harga baru di 2026, mendorong minat investor ritel meningkat pesat
Nah, dengan memahami perbandingan ini, keputusan investasi menjadi lebih berbasis data dan bukan sekadar ikut-ikutan tren.
Return Investasi Emas: 5 Tahun Terakhir (2021–2026)
Emas terbukti menjadi instrumen defensif paling andal sepanjang 5 tahun terakhir. Harga emas Antam yang berada di kisaran Rp900.000 per gram pada awal 2021 melonjak hingga menembus Rp1.700.000 per gram pada pertengahan 2026 — mencerminkan kenaikan sekitar 88% dalam 5 tahun.
Bahkan secara global, harga emas dunia menyentuh level USD 3.200 per troy ounce di 2026, didorong oleh permintaan bank sentral yang masif dan pelemahan dolar AS.
Faktor Pendorong Kenaikan Emas 2026
- Pembelian masif emas oleh bank sentral China, India, dan Turki
- Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur
- Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed
- Melemahnya indeks dolar AS (DXY) secara struktural
Namun, emas tidak menghasilkan passive income. Tidak ada dividen atau bunga. Return murni berasal dari apresiasi harga — sebuah kelemahan yang perlu dipertimbangkan dalam strategi jangka panjang.
Kinerja Reksa Dana: Pilihan Populer Investor Ritel 2026
Reksa dana menjadi instrumen favorit generasi muda berkat kemudahan akses melalui aplikasi seperti Bibit, Bareksa, dan IPOT. Namun, kinerja reksa dana sangat bervariasi tergantung jenisnya.
Berikut gambaran rata-rata return reksa dana berdasarkan jenisnya selama 5 tahun terakhir:
| Jenis Reksa Dana | Return 5 Tahun (Est.) | Risiko |
|---|---|---|
| Reksa Dana Pasar Uang | ~25–35% | Rendah |
| Reksa Dana Pendapatan Tetap | ~30–45% | Rendah–Menengah |
| Reksa Dana Campuran | ~40–65% | Menengah |
| Reksa Dana Saham | ~50–90% | Tinggi |
| Reksa Dana Indeks (IHSG) | ~45–75% | Menengah–Tinggi |
Data di atas merupakan estimasi agregat berdasarkan tren kinerja manajer investasi terkemuka di Indonesia per 2026. Return aktual tiap produk bisa berbeda signifikan.
Keunggulan Reksa Dana di 2026
- Modal awal bisa mulai dari Rp10.000 saja
- Dikelola secara profesional oleh Manajer Investasi berlisensi OJK
- Diversifikasi otomatis tanpa perlu analisis saham satu per satu
- Likuid — bisa dicairkan kapan saja pada hari bursa
Investasi Saham: High Risk, High Return yang Sesungguhnya
Saham adalah instrumen dengan potensi return tertinggi sekaligus risiko terbesar. IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) mencatat perjalanan yang sangat dinamis dalam 5 tahun terakhir.
Dari level sekitar 6.200 di awal 2021, IHSG sempat terpuruk akibat berbagai sentimen negatif sebelum akhirnya berhasil pulih dan bergerak di kisaran 7.200–7.800 pada 2026 — mencerminkan pertumbuhan indeks sekitar 16–26% secara keseluruhan.
Namun, angka indeks tidak mencerminkan keseluruhan gambaran. Beberapa saham sektoral mencatatkan return jauh lebih fantastis:
- Sektor komoditas (batu bara, nikel): return bisa mencapai 200–400% pada puncaknya
- Sektor perbankan besar (BBCA, BBRI): pertumbuhan stabil 60–100% dalam 5 tahun
- Sektor teknologi & digital: sangat fluktuatif, ada yang meroket dan ada yang kolaps
Ternyata, saham individu memiliki dispersi return yang sangat lebar. Satu saham bisa menghasilkan 300%, sementara saham lainnya bisa turun 80%. Inilah yang membuat saham menjadi instrumen paling kompleks dibanding emas maupun reksa dana.
Perbandingan Langsung: Emas vs Reksa Dana vs Saham 2026
Berikut ringkasan perbandingan komprehensif ketiga instrumen investasi ini berdasarkan berbagai parameter penting per 2026:
| Parameter | Emas | Reksa Dana | Saham |
|---|---|---|---|
| Return 5 Tahun | ~88% | 25–90% | -80% s/d +400% |
| Tingkat Risiko | Rendah–Menengah | Rendah–Tinggi | Sangat Tinggi |
| Passive Income | ❌ Tidak ada | ✅ Dividen/kupon | ✅ Dividen |
| Modal Minimum | ~Rp170.000 (0,1 gr) | Rp10.000 | ~Rp100.000 (1 lot) |
| Kemudahan Akses | Mudah | Sangat Mudah | Mudah |
| Cocok Untuk | Hedging inflasi | Pemula & pasif | Aktif & berpengalaman |
Dari tabel di atas terlihat jelas bahwa tidak ada instrumen yang superior di semua aspek. Setiap instrumen memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing sesuai profil risiko investor.
Strategi Alokasi Portofolio Optimal Menurut Profil Risiko 2026
Pertanyaannya bukan “mana yang terbaik?” — melainkan “mana yang terbaik untuk profil risiko tertentu?” Berikut panduan alokasi update 2026:
Profil Konservatif (Risiko Rendah)
- Emas: 40%
- Reksa Dana Pasar Uang / Pendapatan Tetap: 50%
- Saham / RD Saham: 10%
Profil Moderat (Risiko Menengah)
- Emas: 25%
- Reksa Dana Campuran / Indeks: 45%
- Saham: 30%
Profil Agresif (Risiko Tinggi)
- Emas: 10%
- Reksa Dana Saham: 30%
- Saham Individu: 60%
Selain itu, penting untuk melakukan rebalancing portofolio minimal setahun sekali — terutama mengingat kondisi pasar terbaru 2026 yang masih dinamis.
Kesimpulan
Dari perbandingan investasi emas, reksa dana, dan saham selama 5 tahun terakhir, emas unggul sebagai instrumen lindung nilai dengan return konsisten ~88%. Reksa dana menawarkan fleksibilitas dan aksesibilitas tertinggi untuk semua kalangan. Sementara saham berpotensi memberikan return tertinggi, namun memerlukan pengetahuan dan toleransi risiko yang jauh lebih besar.
Tidak ada jawaban tunggal yang berlaku untuk semua orang. Yang terpenting adalah memulai investasi sesuai kemampuan, tujuan keuangan, dan profil risiko. Konsultasikan portofolio dengan perencana keuangan berlisensi OJK sebelum membuat keputusan besar — dan yang paling penting, mulai sekarang juga sebelum terlambat.