Harga cloud computing AWS vs Google Cloud menjadi salah satu pertimbangan utama bagi perusahaan yang ingin migrasi ke infrastruktur awan per 2026. Amazon Web Services (AWS) dan Google Cloud Platform (GCP) terus bersaing ketat dalam menawarkan layanan komputasi awan dengan berbagai model harga. Pertanyaannya, mana yang lebih hemat? Artikel ini membedah secara lengkap perbandingan harga, fitur, dan keunggulan masing-masing platform terbaru 2026.
Faktanya, pasar cloud computing global terus tumbuh pesat. Berdasarkan data Statista kuartal ketiga 2025, AWS menguasai 29% pangsa pasar infrastruktur cloud dunia, sementara Google Cloud berada di posisi ketiga dengan 13%. Namun, pangsa pasar besar tidak selalu berarti harga lebih murah. Selain itu, model penetapan harga kedua provider ini memiliki perbedaan signifikan yang berdampak langsung pada total biaya operasional.
Harga Cloud Computing AWS vs Google Cloud untuk Layanan Compute
Layanan compute atau mesin virtual merupakan komponen paling kritis dalam infrastruktur cloud. AWS menawarkan Amazon EC2, sedangkan Google Cloud memiliki Google Compute Engine (GCE). Keduanya menerapkan sistem bayar sesuai pemakaian, namun detail harganya berbeda.
Berikut perbandingan harga instance on-demand untuk kategori umum per Januari 2026:
| Kategori | AWS (EC2) | Google Cloud (GCE) |
|---|---|---|
| Instance Terkecil | t2.nano (1 vCPU, 512MB RAM) — $4,75/bulan | f1-micro (0,2 vCPU, 0,6GB RAM) — $5,55/bulan |
| Instance Terbesar | u-12tb1.112xlarge (448 vCPU, 12TB RAM) — $109,20/jam | m2-ultramem-416 (416 vCPU, 11.776GB RAM) — $102,96/jam |
| Lebih Hemat Secara Umum | Lebih murah untuk instance kecil | Lebih murah untuk instance besar |
Data di atas menunjukkan bahwa AWS cenderung lebih murah pada instance entry-level. Namun, untuk workload berskala besar, Google Cloud menawarkan harga yang lebih kompetitif. Bahkan, beberapa sumber menyebutkan GCP bisa 25-50% lebih murah dibandingkan AWS tergantung jenis instance yang digunakan.
Model Penetapan Harga: Pay-as-You-Go hingga Committed Use
Memahami model harga adalah kunci untuk mengoptimalkan pengeluaran cloud. Baik AWS maupun Google Cloud menawarkan beberapa opsi yang berbeda secara signifikan.
Model Harga AWS
AWS menyediakan empat model utama pada 2026:
- On-Demand: Bayar per detik atau per jam tanpa komitmen jangka panjang. Cocok untuk proyek jangka pendek.
- Reserved Instances (RI): Komitmen 1 atau 3 tahun dengan diskon hingga 75% dari harga on-demand.
- Savings Plans (SP): Mirip RI namun lebih fleksibel, memungkinkan perpindahan antar instance family dan region.
- Spot Instances: Memanfaatkan kapasitas idle AWS dengan diskon hingga 90%, cocok untuk workload fault-tolerant.
Selain itu, AWS menawarkan free tier untuk pelanggan baru dengan kredit hingga $200 dan akses gratis ke layanan tertentu selama enam bulan.
Model Harga Google Cloud
Google Cloud menerapkan pendekatan yang sedikit berbeda:
- Pay-as-You-Go: Tanpa biaya di muka, penagihan per detik dengan minimum satu menit.
- Committed Use Discounts (CUD): Komitmen 1 atau 3 tahun dengan diskon hingga 57%.
- Spot VMs: Versi Google dari Spot Instances, menawarkan diskon besar untuk kapasitas yang tidak terpakai.
- Sustained-Use Discounts: Diskon otomatis yang meningkat seiring durasi pemakaian dalam satu bulan — tanpa perlu komitmen.
Nah, perbedaan paling menonjol terletak pada sustained-use discounts milik Google Cloud. Fitur ini memberikan potongan harga secara otomatis tanpa harus mendaftar program apapun. Semakin lama sebuah instance berjalan dalam satu bulan, semakin besar diskonnya. AWS tidak memiliki fitur serupa — penghematan di AWS membutuhkan komitmen eksplisit.
Perbandingan Harga Layanan Penyimpanan (Storage)
Penyimpanan data merupakan komponen biaya besar lainnya. AWS menggunakan Amazon S3, sedangkan Google Cloud menawarkan Google Cloud Storage. Keduanya membagi layanan ke dalam beberapa tier berdasarkan frekuensi akses.
Berikut perbandingan harga penyimpanan per GB per bulan untuk 1TB pertama:
| Tier Penyimpanan | AWS S3 | Google Cloud Storage |
|---|---|---|
| HOT (Standard) | $0,023/GB | $0,026/GB |
| COOL (Infrequent Access) | $0,0125/GB | $0,007/GB |
| COLD (Archive) | $0,004/GB | $0,004/GB |
| Deep Archive | $0,00099/GB (Glacier Deep Archive) | Tidak tersedia di tier ini |
Ternyata, hasilnya cukup menarik. Untuk storage tier HOT, AWS sedikit lebih murah dibandingkan Google Cloud. Namun, pada tier COOL, Google Cloud jauh lebih hemat dengan selisih hampir 44%. Jadi, pemilihan provider sangat bergantung pada pola akses data yang dijalankan.
Infrastruktur Global dan Jaringan Data Center
Jangkauan infrastruktur berpengaruh langsung pada latensi dan keandalan layanan. Per 2026, berikut perbandingan jaringan global kedua provider:
| Aspek Infrastruktur | AWS | Google Cloud |
|---|---|---|
| Region | 39 region | 42 region |
| Availability Zones | 123+ | 121+ |
| Total Layanan | 200+ | 100+ |
| Uptime SLA | Hingga 99,9% | Hingga 99,9% |
| Keunggulan Jaringan | Jangkauan layanan lebih luas | Jaringan privat global yang lebih cepat |
Meskipun AWS memiliki lebih banyak layanan dan availability zones, Google Cloud unggul dalam hal performa jaringan. Google mengoperasikan jaringan privat yang menjangkau lebih dari 200 negara dengan jutaan kilometer fiber optik bawah laut dan darat. Hal ini memberikan keuntungan latensi rendah untuk aplikasi yang sensitif terhadap kecepatan.
Keunggulan Masing-Masing Platform untuk Kebutuhan Spesifik
Harga bukan satu-satunya faktor penentu. Setiap platform memiliki kekuatan yang berbeda untuk kebutuhan bisnis tertentu.
Kapan AWS Menjadi Pilihan Tepat?
- Katalog layanan terlengkap — dengan lebih dari 200 layanan, AWS mendukung hampir semua kebutuhan IT.
- Enterprise dan regulasi ketat — compliance terhadap ISO 27001, SOC 2, GDPR, dan HIPAA sudah matang.
- Ekosistem third-party terbesar — integrasi dengan ribuan tool dan partner.
- Deep archive paling murah — S3 Glacier Deep Archive hanya $0,00099/GB, opsi termurah di industri.
Kapan Google Cloud Menjadi Pilihan Tepat?
- Big data dan AI/ML — BigQuery dan Vertex AI menjadi standar industri untuk analitik dan machine learning.
- Efisiensi biaya otomatis — sustained-use discounts memberikan penghematan tanpa komitmen.
- Performa jaringan superior — jaringan privat Google menawarkan latensi paling rendah.
- Startup dan MVP — App Engine dan Cloud Run memungkinkan scaling otomatis yang efisien.
Jadi, pemilihan antara AWS dan Google Cloud sangat bergantung pada prioritas bisnis. Organisasi yang membutuhkan variasi layanan luas cenderung cocok dengan AWS, sementara tim yang fokus pada data analytics dan efisiensi biaya lebih diuntungkan oleh Google Cloud.
Tips Mengoptimalkan Biaya Cloud Computing di 2026
Terlepas dari provider yang dipilih, ada beberapa strategi untuk menekan pengeluaran cloud:
- Gunakan pricing calculator resmi — AWS Calculator dan Google Cloud Pricing Calculator membantu estimasi biaya sebelum deployment.
- Manfaatkan committed use discounts — untuk workload yang sudah diprediksi, komitmen jangka panjang bisa menghemat hingga 57-75%.
- Pilih region terdekat — harga bervariasi antar region, dan memilih lokasi terdekat mengurangi biaya transfer data.
- Gunakan spot/preemptible instances — untuk batch processing atau CI/CD, diskon hingga 90% sangat signifikan.
- Monitor dan right-size secara rutin — pastikan instance yang berjalan sesuai dengan kebutuhan aktual, bukan over-provisioned.
Selain itu, pertimbangkan untuk menggunakan pendekatan multi-cloud apabila workload yang dijalankan sangat beragam. Kombinasi AWS untuk layanan enterprise dan Google Cloud untuk analitik bisa menjadi strategi cost-effective yang optimal.
Kesimpulan
Perbandingan harga cloud computing AWS vs Google Cloud terbaru 2026 menunjukkan bahwa tidak ada pemenang mutlak. AWS unggul dalam hal kelengkapan layanan, ekosistem partner, dan harga storage tier HOT. Sementara itu, Google Cloud menawarkan harga compute yang lebih kompetitif, diskon otomatis melalui sustained-use, serta performa jaringan yang lebih cepat.
Keputusan terbaik bergantung pada jenis workload, skala operasi, dan prioritas bisnis masing-masing organisasi. Sebelum memutuskan, manfaatkan free tier dari kedua provider untuk melakukan uji coba langsung. Gunakan juga pricing calculator resmi agar estimasi biaya lebih akurat dan terhindar dari pengeluaran tak terduga.