Beranda » Ekonomi » Obligasi Korporasi Yield Tinggi 2026: Daftar & Panduan Lengkap

Obligasi Korporasi Yield Tinggi 2026: Daftar & Panduan Lengkap

Obligasi korporasi yield tinggi menjadi salah satu instrumen investasi yang paling diburu sepanjang tahun 2026. Di tengah dinamika suku bunga acuan Bank Indonesia dan kondisi pasar modal yang terus berkembang, sejumlah perusahaan besar menerbitkan surat utang dengan imbal hasil menarik. Lalu, obligasi mana saja yang layak masuk radar investor per 2026?

Minat terhadap obligasi korporasi terus meningkat karena menawarkan yield lebih tinggi dibandingkan obligasi pemerintah. Selain itu, diversifikasi portofolio menjadi alasan utama mengapa investor ritel maupun institusi melirik instrumen ini. Faktanya, volume penerbitan obligasi korporasi di Indonesia pada kuartal pertama 2026 mencatat kenaikan signifikan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Apa Itu Obligasi Korporasi Yield Tinggi?

Obligasi korporasi adalah surat utang yang diterbitkan oleh perusahaan swasta maupun BUMN untuk mendanai ekspansi bisnis atau refinancing utang. Istilah yield tinggi merujuk pada imbal hasil kupon yang ditawarkan di atas rata-rata pasar.

Umumnya, obligasi dengan yield tinggi berasal dari perusahaan yang memiliki rating kredit menengah (BBB hingga A). Semakin rendah rating, semakin besar yield yang ditawarkan sebagai kompensasi risiko. Namun, bukan berarti seluruh obligasi yield tinggi berisiko buruk.

Nah, dalam konteks pasar Indonesia tahun 2026, beberapa emiten dengan fundamental kuat justru menawarkan kupon kompetitif. Hal ini terjadi karena persaingan antaremiten dalam menarik dana investor semakin ketat.

Daftar Obligasi Korporasi Yield Tinggi Terbaru 2026

Berikut daftar obligasi korporasi dengan yield menarik yang tersedia di pasar sekunder maupun pasar perdana sepanjang 2026. Data disusun berdasarkan informasi penerbitan dan pencatatan di Bursa Efek Indonesia serta KSEI.

Baca Juga :  Asuransi Penyakit Kritis Terbaik 2026: Perlindungan Kanker & Jantung
Emiten / SeriRatingTenorKupon / YieldSektor
Adira Finance (ADMF)AAA3 Tahun7,75% – 8,10%Multifinance
Indosat Ooredoo HutchisonAAA5 Tahun7,85% – 8,25%Telekomunikasi
Medco Energi (MEDC)A+5 Tahun8,50% – 9,00%Energi & Migas
Waskita Karya (WSKT)BBB+3 Tahun9,25% – 9,75%Konstruksi BUMN
Sumber Alfaria (AMRT)AA+5 Tahun7,90% – 8,30%Ritel
Japfa Comfeed (JPFA)A3 Tahun8,75% – 9,20%Agribisnis
Merdeka Copper GoldA-5 Tahun8,80% – 9,50%Pertambangan
Bank BTPN (BTPN)AAA3 Tahun7,50% – 7,90%Perbankan
PP Properti (PPRO)BBB3 Tahun9,50% – 10,25%Properti BUMN
Sinar Mas Agro (SMAR)A+5 Tahun8,25% – 8,70%Agribisnis

Perlu dicatat bahwa angka yield di atas bersifat indikatif berdasarkan kondisi pasar sekunder dan penawaran perdana per 2026. Yield aktual bisa berubah mengikuti dinamika suku bunga dan permintaan pasar.

Faktor yang Mempengaruhi Yield Obligasi Korporasi 2026

Beberapa faktor fundamental mempengaruhi tingkat yield obligasi korporasi sepanjang 2026. Memahami faktor-faktor ini penting untuk mengambil keputusan investasi yang tepat.

1. Kebijakan Suku Bunga Bank Indonesia

Suku bunga acuan BI Rate menjadi tolok ukur utama dalam penentuan kupon obligasi. Jadi, ketika BI mempertahankan atau menurunkan suku bunga, yield obligasi baru cenderung menyesuaikan. Sebaliknya, kenaikan suku bunga mendorong yield obligasi menjadi lebih menarik.

Sepanjang 2026, Bank Indonesia menerapkan kebijakan moneter yang relatif akomodatif. Hal ini memberikan ruang bagi emiten untuk menawarkan kupon kompetitif tanpa membebani biaya pendanaan secara berlebihan.

2. Rating Kredit Emiten

Lembaga pemeringkat seperti PEFINDO, Fitch, dan Moody’s memberikan rating yang mencerminkan kemampuan bayar emiten. Semakin rendah rating, semakin tinggi yield yang harus ditawarkan. Berikut klasifikasi umum yang berlaku:

  • AAA (Investment Grade Tertinggi) — yield relatif rendah, risiko gagal bayar sangat kecil
  • AA hingga A — yield moderat, fundamental perusahaan masih kuat
  • BBB (Batas Investment Grade) — yield tinggi, perlu analisis mendalam terhadap arus kas emiten
  • BB ke bawah (High Yield / Junk Bond) — yield sangat tinggi, risiko gagal bayar signifikan

3. Kondisi Makroekonomi dan Inflasi

Inflasi yang terkendali di kisaran target Bank Indonesia membuat real yield obligasi korporasi tetap positif. Selain itu, stabilitas nilai tukar rupiah turut menjaga daya tarik obligasi berdenominasi rupiah bagi investor domestik maupun asing.

Baca Juga :  Konsultan Pajak Profesional: Strategi Hemat Pajak 2026

4. Likuiditas Pasar Sekunder

Tidak semua obligasi korporasi mudah diperjualbelikan di pasar sekunder. Bahkan, beberapa seri obligasi memiliki volume transaksi yang sangat tipis. Faktor likuiditas ini perlu diperhatikan, terutama bagi investor yang membutuhkan fleksibilitas dalam mencairkan investasi sebelum jatuh tempo.

Perbandingan Yield: Obligasi Korporasi vs Instrumen Lain

Untuk memberikan gambaran lebih jelas, berikut perbandingan yield rata-rata beberapa instrumen pendapatan tetap yang tersedia di Indonesia per update 2026.

Instrumen InvestasiYield Rata-rata 2026Risiko
Deposito Bank BUKU IV4,50% – 5,50%Rendah
SBN Ritel (ORI / SR)6,25% – 6,75%Sangat Rendah
Obligasi Korporasi (AAA)7,50% – 8,25%Rendah – Moderat
Obligasi Korporasi (A – BBB)8,50% – 10,25%Moderat – Tinggi
Reksa Dana Pendapatan Tetap6,00% – 8,00%Moderat

Ternyata, selisih yield antara obligasi korporasi berrating A–BBB dan SBN ritel bisa mencapai 2–3,5 persen. Angka ini cukup signifikan, terutama untuk alokasi dana jangka menengah hingga panjang.

Tips Memilih Obligasi Korporasi Yield Tinggi yang Aman

Yield tinggi memang menggiurkan, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya pertimbangan. Berikut beberapa tips penting sebelum membeli obligasi korporasi di tahun 2026.

  1. Cek rating kredit terbaru — pastikan rating dari PEFINDO atau lembaga pemeringkat lain masih berlaku dan tidak dalam status credit watch negative
  2. Analisis laporan keuangan emiten — perhatikan rasio utang terhadap ekuitas (DER), arus kas operasional, dan kemampuan bayar bunga (interest coverage ratio)
  3. Perhatikan tenor dan jatuh tempo — sesuaikan dengan horizon investasi pribadi agar tidak perlu menjual di pasar sekunder dengan harga diskon
  4. Diversifikasi sektor — jangan menempatkan seluruh dana di satu sektor industri untuk mengurangi risiko konsentrasi
  5. Pantau likuiditas pasar sekunder — pilih seri obligasi yang aktif diperdagangkan agar mudah dicairkan saat dibutuhkan
  6. Pahami aspek perpajakan — penghasilan bunga obligasi dikenakan PPh final sebesar 10% sesuai ketentuan terbaru 2026
Baca Juga :  Terlilit Pinjol Ilegal? Ini 5 Cara Ampuh Lapor & Bebaskan Diri!

Selain itu, memanfaatkan jasa manajer investasi atau wealth advisor bisa menjadi langkah bijak. Terlebih bagi investor pemula yang belum terbiasa menganalisis prospektus dan risiko kredit secara mandiri.

Cara Membeli Obligasi Korporasi di Pasar Perdana dan Sekunder

Membeli obligasi korporasi di Indonesia semakin mudah berkat digitalisasi infrastruktur pasar modal. Berikut dua jalur utama yang tersedia per 2026.

Pasar Perdana

Pembelian di pasar perdana dilakukan saat emiten pertama kali menawarkan obligasi. Prosesnya melalui agen penjual yang ditunjuk, biasanya perusahaan sekuritas besar. Keuntungan membeli di pasar perdana adalah mendapatkan harga par (100%) dan kupon yang sudah ditetapkan sejak awal.

Pasar Sekunder

Jika masa penawaran perdana sudah lewat, obligasi tetap bisa dibeli melalui pasar sekunder. Transaksi dilakukan via perusahaan sekuritas atau platform online trading yang menyediakan fitur perdagangan obligasi. Namun, harga di pasar sekunder bisa di atas (premium) atau di bawah (discount) nilai par tergantung kondisi pasar.

Beberapa platform yang mendukung transaksi obligasi korporasi di Indonesia antara lain:

  • Aplikasi sekuritas seperti Bareksa, MOST (Mandiri Sekuritas), dan D’One (Danareksa)
  • Platform wealth management dari bank-bank besar
  • Sistem elektronik IBPA (Indonesia Bond Pricing Agency) untuk referensi harga wajar

Risiko yang Perlu Diwaspadai pada Obligasi Korporasi

Setiap instrumen investasi memiliki risiko. Berikut risiko utama yang melekat pada obligasi korporasi yield tinggi tahun 2026.

  • Risiko Gagal Bayar (Default Risk) — emiten tidak mampu membayar kupon atau pokok utang saat jatuh tempo
  • Risiko Suku Bunga (Interest Rate Risk) — kenaikan suku bunga menyebabkan harga obligasi di pasar sekunder turun
  • Risiko Likuiditas — kesulitan menjual obligasi di pasar sekunder karena minimnya pembeli
  • Risiko Downgrade Rating — penurunan rating kredit emiten bisa menekan harga obligasi secara signifikan
  • Risiko Inflasi — jika inflasi melonjak melebihi yield, maka real return investasi menjadi negatif

Faktanya, kasus gagal bayar obligasi korporasi di Indonesia memang pernah terjadi beberapa kali. Jadi, melakukan analisis fundamental secara menyeluruh sebelum berinvestasi adalah langkah yang tidak bisa ditawar.

Kesimpulan

Obligasi korporasi yield tinggi tahun 2026 menawarkan peluang menarik bagi investor yang mencari imbal hasil di atas rata-rata deposito dan SBN ritel. Dengan yield berkisar antara 7,50% hingga 10,25%, instrumen ini layak dipertimbangkan sebagai bagian dari portofolio diversifikasi.

Namun, yield tinggi selalu berjalan berdampingan dengan risiko yang lebih besar. Pastikan untuk selalu mengecek rating kredit, menganalisis laporan keuangan emiten, dan menyesuaikan tenor dengan kebutuhan likuiditas. Pantau terus perkembangan pasar obligasi Indonesia melalui situs resmi Bursa Efek Indonesia, KSEI, dan IBPA untuk mendapatkan informasi terbaru 2026 sebelum mengambil keputusan investasi.